Wilujeng Sumping....

Salam hangat dan kreatif....

Selasa, 19 Juli 2016

PELATIHAN HIDROPONIK PURWAKARTA

MAU DAFTAR PELATIHAN HIDROPPONIK?

KETIK DAFTAR#NAMA LENGKAP#ALAMAT# NO HP# EMAIL#

KIRIM KE 0819 101 909 68 / PIN 5B26BCAF

LALU TRANSFER UANG PENDAFTARAN
RP 350.000

KE REKENING BRI KCP WANAYASA
NOMOR 4357 - 01 - 013897 - 53 - 6
A.N SUSI SENDRAYANI, SIP

ATAU REKENING BCA
NO. REK 2317 035 124
A.N NANDANG AHMAD H

JIKA SUDAH TRANSFER, KIRIM BUKTINYA KE EMAIL : warungtanamanpwk@yahoo.com
atau VIA BBM KE 5B26BCAF

BATAS AKHIR MENDAFTAR DAN TRANSFER TANGGAL 3 AGUSTUS 2016

SELAMAT MENDAFTAR!

Rabu, 13 Mei 2015

Bukan Soal Mantel, Tapi Mental


23 Maret 2015

07.00 – 09.00

Hari ini Senin, sejak bangun tidur pikiran agak kurang fokus. Tubuh rada lesu. Saya sudah dua bulan ini selalu menyempatkan shaum Senin – Kamis. Alhamdulillah, biar sehat. Saya anggap ini sebagai tirakat juga. Saya juga sholat saban waktu, dzikir dan berdo’a. Ditambah lagi sedekah.

Datang ke toko agak pagi, seperti biasa. Belum juga beres buka rolling door toko, seorang lelaki paruh baya datang beli mouse. Alhamdulillah, rezeki nih. Sebelum ke toko juga saya mampir ke ibu, saya kasih uang 300 ribu rupiah. Padahal, saya juga lagi susah dan pas-pasan. Tapi kalau lagi mumet, yang saya lakukan ya sedekah, membaca qur’an atau buku, berwudlu, atau makan kalau lagi tidak puasa. Hehehe.

Oh iya, saya selalu mengunjungi ibu saya hampir tiap hari. Kalau gak sempat, saya telepon. Selalu. Saya berfikir, ibu saya ini asset saya yang berharga. Dia yang saya yakini merupakan orang yang selalu berdo’a untuk kesuksesan saya. Sejak dulu saya bayi hingga kini. Saya percaya dengan mukjizat yang dimiliki seorang ibu.

Agak siang, datang A, mantan karyawan saya yang pamit dari toko dengan tidak pamitan. Hehe. Istilahnya rumit ya? Ya maksudnya dia berhenti bekerja tapi tidak bilang. Menghilang begitu saja tanpa basa-basi. Dia datang dengan segudang maaf. Saya tahu sih dia juga hidupnya agak morat-marit. Nikah lalu tidak punya pekerjaan. Saya kasihan juga. Dari ngobrol2 saya tahu bahwa dia sekarang ternak bebek. Cuma lantaran musim hujan, bebeknya jarang bertelur.

Lalu dia bicara soal hutang piutang. Saya sih tidak tahu dia punya utang ke toko saya. Sebab yang kelola manager toko saya. Dia minta maaf. Saya maafkan dan saya lunaskan hutangnya. Gak usah dibayar. Kasihan juga. Terakhir, sebelum pamit, dia beli tinta titipan kantor desa sebanyak 2 botol. Ini rezeki kata saya, alhamdulillah.

10.00

Hari ini saya punya jadwal ke Bandung. Harus berangkat. Jadwalnya ke Cimahi dulu. Hari sudah mendung. Selalu begitu saban hari. Kemarin juga cuaca begitu. Baru jalan sampai Bojong saya sudah kena hujan gede. Lupa bawa mantel. Akhirnya saya berteduh dari jam 12.00 s.d. jam 15.00. Lalu balik lagi, tak jadi pergi.

Untuk hari ini agak pagi saya berangkat. Dengan harapan, andai hujan turun, saya sudah sampai di Bandung. Dengan sedikit mengibaskan tangan, agar rasa malas dan dingin menguap ke langit, saya tancap gas. Sampai Cikalong hujan turun. Mulanya kecil lalu deras dan deras.

Sebentar saya mampir di warung kosong. Saya berfikir, gimana nih? Kalau perjalanan dilanjut, bagaimana barang bawaan berupa laptop 5 unit yang saya bawa?  Gak akan muat masuk mantel. Habis badan saya jumbo. Hahaha. Jarang olah raga sih.

Oh iya, sekedar selingan, beberapa waktu yang lalu, saat saya antar ibu ke dokter, saya iseng nginjak timbangan. Kaget bukan kepalang. Kiloan saya 61 kg. Waaww! Padahal, sebelumnya 67 kg. Sampai rumah saya kegirangan. Asyik juga kiloan berkurang. Namun agak mikir saat istri komentar. Kata istri, mungkin lagi stress, banyak pikiran. Saya juga jadi kepikiran. Apa iya ya? Ah tapi masa? Biasanya saya tak pernah stres sampai segitunya. Ini jadi misteri buat saya.

Misteri itu akhirnya terpecahkan. Saat telinga anak saya iritasi, iseng-iseng di dokter yang lain saya nginjek timbangan lagi. Waduh? Kiloan saya kok 67 kg lagi? Kenapa ya dalam seminggu naiknya seberat itu? Istri saya komen, mungkin kiloan di dokter lain rusak. Iya juga kali ya? Sedih bercampur bahagia. Sedihnya, kiloan saya tetap 67 kilo. Bahagianya, saya mampu membuktikan bahwa tuduhan istri saya soal stres ternyata sama sekali tidak benar. Dan nyatanya, saya selalu waras. Hahaha. Banyak pikiran, mumet, banyak masalah, itu tidak sampai mengganggu jiwa dan tubuh saya. Alhamdulillah.

11.00

Hujan semakin deras. Kelok-kelok jalan menuju Cimahi saya lewati dengan dingin yang menggigit. Beberapa bagian mantel mungkin sobek. Itu terasa dari resapan air di perut dan kaki. Saya berfikir, inilah perjuangan hidup. Harus mampu melewati halangan dan rintangan.

Saya percaya, hidup ini soal keberanian dan mental. Kadang banyak dari kita, jika mau bepergian selalu tak jadi lantaran hujan. Apa hujan tidak bisa disiasati? Kenapa? Bukankah ada mantel? Ah, mungkin masalahnya di mental. Takut dingin, tak mau basah, tak mau sakit dan masuk angin. Ketakutan. Bahkan selalu mereka-reka, takut hujannya tak berhenti-berhenti. Padahal, kalau positif thinking, boleh jadi di sini hujan, tapi di sana panas. Boleh jadi kan?

Perjalanan dari Pwk menuju Cimahi saya maknai seperti perjalanan hidup. Kadang untuk meraih sukses, kita ragu-ragu. Takut A, takut B. Padahal yang ditakutkan belum tentu terjadi. Andai terjadi, toh setelah dilewati tak ada masalah juga bukan? Basah sedikit ya wajar. Namanya juga hujan-hujanan. Bukankah saat kepanasan juga selalu mengeluh? Lalu maunya kita apa sih? Tak ada sabar, tak ada syukur. Ini penyakit kita.

11.30

Sampai Padalarang, Alhamdulillah cuaca panas. Tuh kan? Untung saya pergi. Coba kalau sewaktu di rumah tadi saya menerka-terka seperti anak kecil : pergi jangan, jangan pergi, pergi jangan, pergi jangan, jangan! Untungnya kata terakhir : pergi! Hehehe. Biarpun di awal keujanan, toh di Padalarang panas juga. Spekulasi itu penting. Namun keberanian lebih penting. Dan kesiapan untuk menghadapi resiko keberanian : ini kunci bahagianya hidup kita.

Setelah melewati rel kereta api, sengaja saya tak berhenti. Jas hujan tetap saya pakai. Siapa tahu nanti di depan hujan lagi. Biasanya suka banyak yang komen di jalanan. Kok panas-panas pake jas hujan? Ini juga pelajaran penting. Belajar merespon komentar dan kritik.

Abad sekarang abad komentar. Di televisi, kalau sepak bola atau tinju tidak ada komentatornya, rasanya hambar. Apa lagi musim teknologi macam sekarang. Jejaring sosial semacam facebook, twitter atau sejenisnya kan ruang komen-komenan. Malah istri saya, kalau saya komen atas perilaku gokil atau nyeleneh di rumah, dia suka nge-just balik : dasar facebooker! Celetuknya begitu.

Hidup tentu butuh komentar berupa saran dan kritik orang lain. Namun sepenuhya menyerahkan kehidupan kita pada persepsi publik tentu tidak baik juga. Nanti kita menjadi bukan kita. Semestinya, saran dan kritik itu disikapi dengan bijaksana. Disaring dulu. Biar kita memilah. Mana yang pantas kita turuti, mana yang tidak. Biar kita tidak jadi robot.

Kalau hidup terus-terusan gimana kata komentar orang, repot. Mending-mending komentarnya yang mendorong kebaikan dan positif. Coba yang jelek-jelek dan destruktif. Umpamanya, “ah, kamu mah gak bakalan sukses!”. Coba dengarkan kalimat ini terus menerus, lalu kita terpukau, lalu alam bawah sadar kita menerimanya, bahaya kita.

Jadi, bijaksanalah mencerna masukan eksternal. Pilah dulu, shortir dulu. Baru adaptasi.

12.00

Sampai di pelataran parkir Mall Cimahi, saya berencana untuk sholat dzuhur dulu. Lantaran sudah waktunya sholat. Pas saya berhenti, pas adzan berkumadang. Kebetulan di parkiran mall ini ada mushola kecil yang kotor dan kucel. Tempatnya sempit. Kadang manajemen tempat-tempat belanja cuek terhadap fasilitas umum dan ibadah. Padahal, di Kota Bandung, saya pernah lihat Perda soal fasilitas tempat ibadah di pusat perniagaan. Harus representatif, harus nyaman, bersih, dan indah. Perda ini saya pikir bagus. Apa di Pemkot Cimahi belum punya aturan macam ini?

Belum diterapkan rupanya. Kalau melihat di Gramedia umpamanya, di situ, walau kecil tapi ada. Resik lah. Bersih. Tapi di BEC perasaan enggak ada. Ehehehe. Kalau pergi ke BEC, saya suka numpang sholat di kantor perpajakan yang bersebelahan dengan BEC. Aneh. Masa kalah sama pusat belanja kecil. Di Kandaga yang kecil saja ada. Di Plasa Kosambi  juga ada. Bahkan di Pasar Baru, mesjidnya adem dan resik banget. Tapi di sini? Belum kali ya? Atau memang saya sendiri yang tidak tahu?

Setelah sholat, saya buka handphone. Maklum tadi sepanjang perjalanan kedengaran krang-kring terus. Tidak keangkat. Kan nelepon sambil berkendara dilarang toh? Hehehe. Saya jarang lakukan itu. Tapi saya suka lihat, banyak mereka yang suka nelepon sambil bawa motor. Kalau bawa mobil mending lah. Rodanya ada 4. Lha motor? Kakinya 2. Tar hilang keseimbangan, gimana tuh akibatnya?

Banyak panggilan tak terjawab dan pesan belum terbaca. Ada nomor yang menarik, saya telepon balik. Kalau nomornya tidak menarik, maksudnya tidak akan dibuka gituh? Hehehe. Bukan gituh maksudnya. Ada nomor yang menarik perhatian. Sampai-sampai energi saya terkuras sampai habis ke nomor itu. Cheile...

Setelah saya telepon, yang di seberang bicara. Intinya dia nawarin uang. Kalau 5 juta dulu mau diambil ga? Begitu kira-kira isi percapakan kami. Saya bahagianya selangit. Tapi mimik saya biasa-biasa saja. Saya jawab, nanti saya komunikasi dulu dengan teman. Ternyata ini orang yang punya utang mau bayar. Saya punya sangkut paut utang belasan juta. Bekas DP pembelian ruko yang tidak jadi. Duit saya nyangkut di situ. Namun saya juga akan memastikan beberapa hal, termasuk sisanya. Jangan sampai uang saya raib, toko tak jadi saya miliki.

Kalau saja di situ tidak becek, rasanya mau dah sujud syukur di lantai puncak Mall Cimahi ini. Saya girang bukan kepalang. Dari bank sudah nelepon terus, sementara besok tanggal 24 jadwal saya bayar hutang. Pas banget. Dasar Tuhanku yang Maha Baik. Dia tahu aja kebutuhan gue.  Hehehe. Alhamdulillah Ya Allah. Di bulan Maret ini saya diselamatkan oleh Allah, berbagai kebutuhan hidup saya dipenuhi. Puji Syukur ya Allah.

Jadi, kadang begitulah cara Allah menjawab do’a-do’a kita. Kadang lokasinya juga tak disangka-sangka. Mintanya di rumah, di Purwakarta. Tapi momentum jawabannya di Bandung yang jauh sekali dari perkiraan. Hehehe. Itulah mungkin rezeki min haitsu la yahtasib. Sebenarnya kita hanya perlu keyakinan, positif thinking, mental yang bagus, dan percaya sama Allah.

Senin, 11 Mei 2015

Memulihkan Kepercayaan


 
Di minggu-minggu ini, saya disibukkan dengan berjualan elektronik melalui lembaga pembiayaan yang disebut FIF. Seminggu yang lalu, saya dikenalkan kawan dengan Kepala FIF Cikampek dan salah satu toko elektronik di Kosambi. Setelah bikin konsensus dengan salah satu toko di Karawang, sebut saja pemiliknya Koh Liong, saya gencar menjaring customer. Saya berjualan melalui toko orang lain. Tidak bikin MOU sendiri. Dulu pernah ngajuin MOU dengan FIF, tapi ditolak dengan sebab toko saya kurang disply.

Perlu dicatat, sebelumnya, hampir 3 tahun saya berjualan di Kredit Plus. Namun sejak 2014, karena satu dan lain hal, saya putus kontrak. Setelah putus kontrak, saya berjualan melalui toko-toko kenalan. Tentu terasa berat dan rumit berurusan dengan birokrasi, sistem, komunikasi, dan karakter berlainan di toko orang. Bahkan dari bulan ke bulan saya selalu menjajaki kenalan baru, siapa tahu ada yang lebih menguntungkan. Sampai akhirnya, ada tawaran menarik dari FIF Cikampek dan Koh Liong ini.


 
Pihak toko yang dikenalkan Kepala FIF juga bikin konsensus tersendiri dengan saya. Dia bikin target jualan buat saya. Angkanya 30 konsumen acc selama 3 bulan. Jika tercapai, saya dijanjikan pinjaman barang elektronik senilai 10 juta perak untuk pajangan (disply) di toko saya. Jika 60 konsumen, konskwensinya menjadi dua kali lipat. Saya sanggupi, pasalnya saya lagi krisis modal. Jadi sedang giat mencari fatner usaha yang bisa membantu saya.

Tawaran itu, umpamanya angka 30 konsumen, sebenarnya bukan angka yang wow bagi saya. Tidak berat, bahkan kalau mau sombong-sombongan, itu angka kecil. Sebagai patokan, di 2014, saya selalu mendapatkan konsumen lebih dari 30 setiap bulannya. Terakhir di bulan Oktober 2014, saya dapat konsumen acc 35 orang.

Namun karena ritme semangat yang mengendur setelah putus kontrak dengan leasing, saya butuh kerja keras lagi untuk mendapatkan konsumen sebanyak itu. Saya harus sebar brosur ke lapangan, menghubungi data base konsumen, dan rajin silaturrahmi lagi. Tapi itu tidak masalah. Hidup memang untuk kerja keras, bukan untuk enteng-entengan.

 
Singkat ceita, dalam tujuh hari, saya sudah polling, istilah untuk memasukkan data base konsumen ke leasing, sebanyak 16 customer. Namun ini cuma data. Hehehe. Setelah disurvey, cuma 4 orang yang acc, brow! Haha.  Probabilitasnya cuma 25 % acc dari data yang masuk. Tak apalah. Ini kan baru. Dulu-dulu sih saya 50 s.d 60 %. Jadi kalau target saya punya 30 customer, saya cukup cari aplikasi sebanyak 60 saja. Acc nya 30 toh?

Kepala FIF saban kali ada status hasil surveyan selalu sms : jangan patah semangat! Saya jawab, tidak akan. Sebab sistem di leasing ini ketat sih. Namun kelebihannya statusnya memang kilat. Jika ajuan ditolak (reject), mereka suka sending statusnya disertai berbagai alasan yang masuk akal dengan segera. Walau ditolak, saya kan jadi enak, sebab ada keputusan dengan segera dan cepat. Tidak nunggu-nunggu lama, eh hasilnya ditolak juga.



Secara lebih rinci, dari jumlah 16 customer itu, 4 acc, 2 pending proses, 4 ditolak proses (bed cust), 2 tidak disetujui orang tuanya, 1 tidak disetujui istrinya, 1 ditolak karena barangnya tidak bisa dibiayai, 2 ditolak karena customer tidak ramah dan tidak kooperatif. Woowww! Saya bilang wow, ini pelajaran dan data untuk saya baca. Apa maknanya dari semua ini?

Pertama, untuk yang acc, ya tidak ada masalah. Itu kewenangan surveyor untuk menilai seseorang dengan bekal ilmu yang dimilikinya. Saya senang. Sebab setiap unit yang diacc, saya punya fee yang sudah saya hitung secara nominal. Hehehe. Dan tentu saja, itu akan menjadi poin dalam tantangan saya mengejar target 30 customer dari rekanan saya di Kosambi itu.

Namun, pandangan dan penilaian surveyor, seobyektif apapun akhirnya akan berujung pada subyektivitas. Tak percaya? Saja jabarkan, diantara 4 orang yang diacc itu, 2 diantaranya ternyata pernah kredit di leasing lain. Tapi data base-nya tidak masuk BI checking. Padahal, cara bayarnya jelek. Jadi sudah pasti, kalau customer ini ambil lagi di leasing sebelumnya, ditolak lah. Disebutnya bed customer. Namun alatan konsumennya ramah dan secara pekerjaan menunjang, akhirnya di leasing yang baru ini ajuan mereka di-acc. Tetapi surveyor kan tidak tahu. Hehehe.

 
Kedua, berkaitan dengan 3 konsumen yang tidak disetujui oleh istri dan keluarganya, ini pelajaran bagi siapapun. Kalau mau kredit, ya harus minta persetujuan dulu keluarga. Harus komunikasi. Manfaatnya, kalau kita mati umpamanya, ahli waris atau keluarga akan tahu soal hutang kita. Bukankah dalam Islam, yang harus didahulukan dari seseorang yang meninggal dunia itu dibayarkan dulu utangnya? Dan manfaat bagi leasing, kalau yang bersangkutan tidak ada, bisa nagih ke keluarga. Namanya utang kan ya tetap utang, harus dibayar.

Ketiga, untuk kasus 2 customer yang ditolak dengan alasan tidak kooperatif dan bed charakter, termasuk hasil cheklingnya jelek, ini menarik. Saya juga langsung klarifikaasi ke customernya. Sebab saya kenal. Sebenarnya, konsumen ini orang baik. Bahkan di bulan ini dia lunas untuk kredit elektronik di leasing lain. Saya tau dia lancar. Saya tau dia orang baik. Sering ketemu di mesjid. Sehari-hari ia berjualan. Form lah secara kapasitas. Namun saat di survey, ia tidak mau diwawancara. Ia berdalih, sudah panjang lebar ngobrol dengan saya. Padahal kapasitas saya kan marketing. Saya berfikir, benar juga sih kata surveyor. Tidak ramah. Hehehe. Akhirnya ditolak.

Soal chekling, ini memang prosedur dan taktik surveyor. Biasanya, selain wawancara dan cheking data base di sistem, mereka bertanya soal customer kepada pejabat berwenang di bawah semacam RT/RW, atau kepada tetangga. Lagi-lagi memang ini situasi untung-untungan.

Jika bertanya kepada tetangga yang kebetulan suka dan akur dengan kita, muluslah ajuan kita. Tetapi tidak sedikit, tetangga juga suka ada yang usil. Bahkan mungkin tidak akur dengan kita. Biasanya hasil chekling suka dijadikan acuan surveyor, isinya : menurut tetangga mereka, si A itu suka banyak yang nagih, bla..bla..bla.. pokoknya kesan negatif semua.



Tentu tidak semua customer itu sebagaimana yang dikatakan tetangganya. Tetapi kalau sudah terjadi, konsumen baik-baik tapi tidak disukai tetangga bisa jadi korban penolakan ajuan kreditnya oleh leasing. Ini setidaknya pelajaran penting, bagaimana pun dan dengan siapapun, kita harus akur. Hehehe.

Keempat, untuk 4 konsumen yang ditolak prosesnya tiada lain karena catatan bayar sebelumnya. Di leasing disebut payment story. Setiap yang kredit akan tercatat di data base, kapan bayarnya, tanggal berapa, dll. Dendanya berapa, termasuk lunasnya kapan. Keempat konsumen ini pernah kredit motor. Semuanya ditarik, tidak sampai selesai. Dan tentu saja, mereka dikasih gelar : bed customer. Hehehe. Pasti ditolak.



Yang menggelitik, tiga dari empat konsumen yang ditolak ini ialah guru PNS dengan jabatan Kepala Sekolah. Adapun yang satu sebagai karyawan garmen swasta. Tentu saya tidak hendak mempermasalahkan status dan jabatan.

Namun ketiga orang ini, awalnya marah-marah kepada saya lantaran disebutkan bahwa catatan bayarnya di masa lalu kurang baik. Mereka tidak ngaku pernah ambil motor. Padahal di sistem jelas tercatat nama mereka. Saya tidak hendak mempersoalkan soal masa lalu mereka. Tapi hanya memberikan alasan, mengapa ajuan mereka ditolak.

Mungkin mereka tersinggung soal catatan masa lalu itu. Wajar sih, seolah saya mempermalukan atau menuduh mereka. Namun karena saya hendak memperlihatkan print out catatan mereka, akhirnya perlahan mereka akui. Dan tentu saja mereka mengaku wajar atas penyampaian informasi saya itu. Saya juga memohon maaf lantaran tidak bisa memperjuangkan mereka agar kreditnya di-acc.



Dari semua cerita di atas, tentu dunia jual beli, termasuk persinggungan dengan lembaga pembiayaan memberikan warna tersendiri bagi saya. Banyak pengetahuan, pengalaman, serta dinamika yang saya alami. Untuk poin 1 sampai 3, sudah dikupas tuntas. Namun saya ingin menutup tulisan ini dengan memberikan penekanan pada poin keempat.

Yaitu soal kepercayaan yang telah diberikan sebelumnya. Biasanya konsumen yang pernah ngajuin kredit itu, lalu ngajuin lagi, disebut RO (repeat order). Kalau bagus, ini makanan empuk bagi marketing. Kalau jelek, duh menyedihkan. Sementara marketing sih inginnya yang acc terus.

 

Bahwa memulihkan kepercayaan ternyata lebih sulit ketimbang membangunnya. Bener ga nih? Kalimat ini sama dengan ujaran “mengawali lebih mudah ketimbang mempertahankan”. Dua kalimat ini bisa kita tarik kedalam kasus-kasus kehidupan sehari-hari atau dalam organisasi. Dan mari kita buka secara seksama.

Jika kita mengajukan kredit sepeda motor atau elektronik umpamanya, itu kemungkinan besar di-acc. Besar kemungkinan. Namun jika kita pernah kredit dan kita teledor dalam pembayaran, sering telat, sering loncat bulan, bahkan tidak selesai sampai tuntas, maka jangan harap ajuan kita untuk yang kedua kalinya bisa di-acc lagi. Pasti ditolak.



Tetapi sebaliknya, orang yang tepat waktu dalam kredit, menyelesaikan hutang sampai tuntas, jangankan sudah lunas, belum lunas pun krang-kring telepon sudah bikin kita sibuk : pihak leasing nawarin kredit lagi dengan segudang iming-iming menggiurkan.



Itulah efek perilaku, akibat tindakan, serta insentif dari integritas kita, semuanya akan balik ke kita dalam bentuk dan caranya sendiri. Ini artinya, keleluasaan hidup, rezeki, kemudahan, akan sangat ditentukan oleh seberapa baik kita, oleh seberapa terpercaya kita. Kalau kita sekuat tenaga menjaga integritas, kepercayaan, akhlak kita, maka sudah pasti hidup kita happy-happy saja. Pun sebaliknya, jika kita sering abai, menyepelekan janji, maka dunia menjadi sumpek dan bikin hidup kita ribet dan tak bahagia.

Minggu, 10 Mei 2015

Perhiasan Sesungguhnya


 
Seperti biasanya, pagi hari adalah saat yang menyenangkan. Setelah sebelumnya berdo’a, berdzikir, dan sholat, tugas hidup selanjutnya biasanya membereskan keadaan rumah, mulai tempat tidur sampai dapur.

Lalu mengumpulkan cucian berupa piring, gelas, dan wadah-wadah bekas makanan. Tak lupa, saya memanaskan air untuk mandi si kecil. Lalu mengumpulkan baju-bajunya yang kotor untuk saya cuci. Juga membersihkan dot susu anak saya dengan air mendidih. Biar steril dari kuman.

Tak selang berapa lama, saya mencuci beras untuk kemudian saya masak. Sementara istri tugasnya memasak sayuran, mencuci bekas-bekas makanan yang lain yang dipakai menyusul. Tugas itu dilakukan istri setelah agak siang, dan seringnya setelah saya pergi ke toko. Hehehe. Pasalnya, pas saya berangkat, kadang istri dan anak masih pada tidur. Saya sih perginya selalu di pagi buta. Apa lagi kalau lagi shaum senin-kamis, saya pergi pagi-pagi banget.

Hari ini, Kamis 9 Maret 2015 adalah jadwal saya ke Bandung untuk membeli printer, aksesoris, dan servis laptop customer. Saban pagi saya selalu memompa semangat. Selalu mengendalikan emosi, pikiran, agar selelah apapun tubuh saya, itu bisa berubah menjadi semangat dan bertenaga. Pikiran dan emosi saya rasa menentukan gerak kita, termasuk hasil dari ikhtiar kita.

 
Namun sebelum ke Bandung, di toko saya melayani beberapa konsumen terlebih dahulu. Ada yang belanja, ada yang servis, ada yang cuma tanya-tanya kredit. Lalu saya menyempatkan diri untuk membeli giwang spesial anak saya. Saya sudah tak sabar ingin kasih perhiasan buat anak saya yang lucu dan cerdas itu. Ehehehe.

Saya beli dua buah, masing-masing 2 gram. Harganya tak sampai sejuta. Pasti di rumah istri saya girang bukan kepalang. Pasalnya, akhir-akhir ini dia selalu mengeluh banyak hal. Mulai keadaan ekonomi yang morat-marit, perhiasan istri dan anak yang habis saya jual untuk menutupi kebutuhan hidup, sampai dengan usaha yang lesu. Banyak hal lah. Dan tentu, yang selalu dijadikan keluhan paling sering ialah soal anak kami yang sama sekali tidak memakai perhiasan.

Sebenarnya saya tidak terganggu dengan keluhan itu. Malah kasihan. Saya juga merasa bersalah kadang. Sebagai suami tidak serta-merta memenuhi segala keinginan istri saya. Kalau untuk kebutuhan, alhamdulillah saya masih mampu. Tapi saya anggap sikap istri saya semacam itu wajar. Itu mungkin kebiasaan dari lingkungan keluarga di mana dia berasal.

Sekedar diketahui, keluarga istri merupakan keluarga berada. Bapak mertua saya pengusaha cengkeh. Ibu mertua sebagai ibu rumah tangga dengan segudang asset. Kehidupan mereka berkecukupan. Sering menghabiskan banyak uang untuk sekedar berobat ringan, beli pakaian, perhiasan, dan makan-makan atau rekreasi pelesiran. Mungkin tradisi itu turun sama istri saya. Jadi saat menghadapi kenyataan hidup yang susah, dia sulit beradaptasi. Bahkan menganggap keadaan demikian sebagai situasi yang buruk. Tak jarang kami juga bertengkar soal ini. Mengapa?

 
Sebenarnya saya tidak alergi untuk hidup agak sedikit mewah. Pakaian bermerk, sepatu, tas, saya sudah biasa. Jam tangan saya, karena waktu itu lagi punya rezeki, saya beli Gishock seharga 1,2 juta. Atau makan di restoran, pelesiran ke tempat wisata, itu hal biasa. Nah yang harus dipikirkan ialah saat situasi ekonomi tidak mendukung. Mental saya sudah kuat, tapi istri berbeda sikap.

Kesiapan mental menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, tentu butuh tempaan yang tidak mudah dan tidak sebentar. Itu bisa lahir dari latihan, bacaan, keterpaksaan menghadapi kenyataan dan kesungguhan untuk mengendalikan diri, pikiran dan perasaan.

Saya selalu waspada dengan keadaan ini. Bahkan, dari pemahaman spiritual, saya sadar sang pengatur sejati kehidupan ini Allah. Dan tentu saja, pemilik segala kekayaan di muka bumi ini siapa lagi jika bukan Dia yang Maha Kaya Raya. Saya lahir tanpa membawa apapun, dan saya akan kembali kepada-Nya hanya dengan sehelai kain kafan. Jadi apa yang harus ditakutkan dengan hidup ini? Hidup ini untuk dinikmati dengan segala kemewahan dan keterbatasan yang diberikan Allah. Bukankah begitu?

Nah hari ini, saya menjawab kekhawatiran istri selama ini soal perubahan hidup. Di hadapan istri, saya selalu berorasi laiknya Bung Karno atau ocehan Mario Teguh soal motivasi hidup. Istri kadang tertegun dan ragu. Hahaha. Namun saya selalu meyakinkan, urusan perhiasan itu urusan sepele. Ini soal duniawi.

Bahkan saya selalu sesumbar, akan mengganti seluruh perhiasan istri yang saya jual untuk membayar utang ke bank. Tenang saja. Dari mana, ia tanya. Dari Allah, saya jawab. Saya juga akan membelikan anak kami perhiasan. Dan tekad saya itu Allah kabulkan di hari ini. Alhamdulillah.

Sampai di rumah selepas melewati ratusan kilo jarak tempuh dari Bandung, saya pulang dan dengan buru-buru menghampiri anak saya. Saya pakaikan gelang yang saya beli. Anak saya senyum-senyum saja. Dia memeluk saya. Gak ngerti dengan perhiasan.

Bahkan, “buka..buka..buka”. Dia pengen buka gelang dari tangan kirinya. Saya merasa bangga punya anak ini. Selain diidam-idamkan, ia juga cerdas dan cepat dalam merespon pelajaran. Beberapa minggu lalu ia masih mengucapkan “buta” untuk kata “buka”. Tapi saya rubah, saya ajarin berulang-ulang, dan sekarang, kalau dia ingin membukan kemasan plastik, pintu dan lain-lain, ia akan berkata : “buka!” dengan fasih. Hehehe.

Percakapan saya dengan anak disaksikan istri dari jarak dekat. Istri kelihatan senyum bahagia. Namun karena terus-terusan meminta gelangnya dibuka, saya langsung membukanya. Istri saya komentar, katanya anak kami ini agak tomboy. Namun saya cepat-cepat menimpali pernyataan istri saya. Saya bilang, anak ini mungkin tak perlu perhiasan. Sebab dia sendiri merupakan perhiasan hidup bagi saya.

Suasana senyap, dan kami menutup senja ini dengan berbuka puasa bersama.

Jumat, 08 Mei 2015

Makan dan Kebahagiaan



Mungkin, kalau orang dengan dandanan perlente, punya status mantan caleg, atau apalah, itu menu makan siangnya harus wah. Itulah sebabnya, si ibu tukang warung nasi pinggir pom bensin Wanayasa itu tak henti-hentinya menertawakan saya. Apa pasal?
Saya log in di warung itu sebelum berangkat ke kota menemui relasi usaha. Usaha saya lagi kusut. Makanya saya lebih sering menghabiskan banyak waktu untuk bertemu siapapun yang sekiranya bisa menghasilkan peluang-peluang prospektif.
Masuk di warung ini maksudnya tiada lain : makan siang. Saya sudah biasa keluar masuk warung ini, termasuk di luar jam makan. Sudah kenal dengan pemiliknya. Dijalin sudah agak lama. Dan kebetulan, anaknya yang nomor dua saya kenal di kelas perkuliahan ekonomi. Gini-gini juga saya nyambi jadi semacam dosen. Hahaha. Semacam, bro!.
Saya datang berdua bersama fatner saya dalam menjalankan wirausaha. Ace Yusup namanya. Sistem ambil menu: bebas. Semacam parasmanan. Ambil piring masing-masing, ambil nasi dan lauk pauknya bebas. Lha, pokoknya ini momentum tepat kalau ketemu warung semacam ini. Cocok buat anak kosan yang budget-nya pas-pasan. Bisa kenyang tanpa harus bayar mahal-mahal.
Setelah kenyang, saya lapor sama pemilik warung : nasi satu piring, tidak terlalu besar, sama ikan dengklang (selar) sepotong, tempe bacem dua, sayur asem 2/3 mangkuk. Sudah itu saja. Lalu fatner saya juga lapor dengan isi yang berbeda. Alhasil, total kami makan siang berdua di siang itu Rp. 18.000.
Segituh? Saya kaget, pertama soal total uang yang harus saya bayar. Murah amat? Beras saja lagi melambung tinggi, di kisaran 9 – 12 ribu/kg. Ini sangat kontras dengan harga-harga yang kerap kali bikin saya kaget. Saya pernah makan sop buntut di toserba Giant, pas bayar harganya di atas 40 ribu. Waw kata saya. Saya sering makan siang di lantai ujung di Bandung Electronic Center (BEC), rata-rata satu porsinya 27.000. Lalu di Pujasera sekitar BEP, dan yang selalu saya kenang, di lingkungan Unpad Jatinangor.
Spesial untuk yang di Jatinangor, sedikit belok nih alur tulisan, hehehe, waktu itu, saya diajak pacar saya yang aduhai, untuk menikmati makan siang. Dia tahu persis lokasi-lokasi makan enak versinya di sekitaran Unpad, pasalnya ia sendiri lulusan Fisipol kampus itu. Kami masuk kafe, saya lupa namanya. Naik lantai 2, ada beberapa pasangan lagi menikmati menu pavoritnya. Saya pesan menu diatur sama pacar saya itu. Pas saya cicipi, yang terasa pedasnya rempah lada. Bentuk makanan berlendir, ditelisik sih agak menjijikan. Saya tak tau makanan macam apa itu. Isinya potongan daging ayam kecil-kecil bercampur salad.
Yang saya ingat dari makanan itu pas saya datang ke kasir: 120 ribu! Waduh? Tapi mimik saya lurus saja. Malu sama mantan pacar (sekarang sudah jadi ibu dari anak saya, hehehe) kalau kelihatan kaget atas harga yang harus saya bayar. Saya pikir-pikir, jika saya membandingkan rasa makanan waktu itu dan harga yang saya bayar dengan makan siang di si ibu dekat pom bensin yang cuma 18 ribu perak, menghasilkan beberapa point penting, pertama setidaknya menyangkut rasa.
Rasa keseluruhan makan di pom bensin itu jauh lebih nikmat, sekalipun saya cuma merogoh kocek yang amat sedikit. Kedua, jujur, sekalipun tengah dimabuk cinta, pikiran saya masih waras. Rasa makanan di Bandung itu tetap saja tidak membawa kenikmatan secara original. Yang nikmat itu situasinya saja, sebab saya berhadap-hadapan dengan kekasih yang saya cintai. Hihihi. Jadi, pacaran saya selalu melibatkan akal pikiran. Yang gak enak ya gak enak, gimana lagi. Objektifnya begitu kok? Chiee..
Kedua, balik lagi ke poin dari tema utama artikel ini, saya kaget lantaran pemilik warung ketawa-ketawa terus sambil banyol dan lelucon. “Ih, bapak dosen, mantan caleg, makan siangnya sama dengklang” kata sang pemilik sambil terus menertawaiku. Sesekali saya menjawab atau sekedar menimpalinya dengan agak heran, “memangnya kenapa, bu?”.
Setelah pamit, dalam perjalanan senja menuju kota, sempat juga kepikiran, memangnya makan “dengklang” itu kenapa ya? Apa si ibu menertawakan kocek saya yang lagi boke? Bukankah yang menjumlahkan total harga makan siang kami berdua itu dia sendiri? Lagian, kalau seandainya harus bayar berapapun, hahaha sombong nieh, saya sebenarnya mampu kok? Gakgakgak.
Dari catatan ini saya ingin menggarisbawahi, bahwa makan, sebenarnya tak perlu mahal, yang penting nikmat dan bergizi. Kredo ini lajim ya, dan saya pungut dari berbagai omongan orang yang sering mengaku ahli kesehatan. Nasi sendiri sumber tenaga, sayur asem ya serat ya vitamin lain. Tempe masuk ke kacang-kacangan, bisa sumber protein nabati. Urusan “dengklang”? ini sumber kebahagiaan. Hahaha.
Jadi, kalau makan, jangan selalu berorientasi gizi dan kesehatan. Hahaha. Saran tidak baik nih. Sekali-kali kalau makan itu harus menimbulkan efek bahagia. Puas. Urusan bathin juga. Sebagaimana saat saya makan siang terdiri dari nasi akeul, ikan sepat, sambal goang, pete. Wuidih, nendang banget itu makan. Formulasi gizi di dalamnya saya malas bahas ya. Yang penting bikin happy, sekali-kali gituh.
Namun sekalipun begitu, saya tentu harus mengingatkan dan bertanya : sudahkan Anda makan yang bergizi dan bikin hidup Anda bahagia? Hahaha.

Senin, 23 Maret 2015

Seputar Kredit Melalui Leasing



Pernah kredit elektronik? Kalau pernah, di mana? Di tetangga yang suka ngreditin secara harian? Di toko atau lewat marketing lepas?
Kalau kita ambil kredit dari tetangga lalu dicicil secara mingguan, atau kadang bisa nego tidak bayar, hehehe, itu namanya avalis. (Gak gitu juga sih, kadang lantaran ke tetangga, bayarnya jadi semau gue, haha).
Namun, kini banyak juga perusahaan yang melakukan itu. Bedanya, kalau avalis perorangan modalnya kecil, kalau yang berbentuk lembaga baik CV atau PT ya besar. Intinya, kredit semacam itu, barangnya dari mereka, bayar dan nyicilnya juga ke mereka lagi.
Yang skala besar, perusahaan semacam itu banyak. Ada Columbia, Prioritas, Semar Kredit, dll. Macam-macam namanya. Yang Semar kayak wayang saja ya? Hehehe. Lalu soal prosesnya tentu beda dengan perorangan. Mereka proses datanya, mereka survey, kalau acc, baru mereka kirim barangnya.
Di samping itu, ada juga yang melalui lembaga pembiayaan (leasing). Lembaga ini memang membiayai kredit. Namun untuk penyediaan unit barangnya, mereka kerja sama dengan ritel-ritel atau toko distributor.
Lembaga pembiayaan semacam itu banyak. Cuma yang terkenal ya FIF dengan Spectra, Adira dengan Adira Quantum, dan PT Finansia dengan Kredit Plusnya. Ada juga Home Kredit, dll. Belakangan, Adira Quantum tutup lantaran kena aturan otoritas jasa keuangan (OJK). (Kasihan ya karyawannya pada di PHK.. semoga tabah :( )
Bagaimana cara kerja kredit semacam ini? Pertama, leasing dan toko melakukan perjanjian kerja sama. Dengan syarat2 tertentu. (Tambahan : pake matrei + tanda tangan J) Kalau ada customer yang mau kredit, umpamanya datang ke toko, nanti marketing leasing datang ambil persyaratan berupa KTP customer yang biasanya dititip di toko.
Lalu sama marketing, formulir konsumen diisi lengkap untuk selanjutnya di-input di sistem leasing sebagai bahan surveyor untuk nyurvey.
Setelah surveyor cek data dan kelayakan kredit, Credit Analis (CA) leasing akan memutuskan acc atau tidak. Kalau acc, nanti leasing akan mengeluarkan PO ke toko agar toko rekanan segera mengirim barang. Oh iya, ada triknya loh supaya ajuan kredit kita diacc. Nanti saya kasih bocoran. Hehehe.
Setelah toko mengirim barang, umpamanya harga barangnya 3 juta, contoh angsuran 200 rb dan admin 100 ribu, itu pas dikirim diambil sama toko. Rata-rata sistem yang berlaku di leasing menggunakan angsuran pertama + admin pas ada barang. Pake DP untuk beberapa jenis produk saja.
Lalu toko membuat invoice (tagihan) ke leasing. Selang sehari, nanti leasing akan mentransfer uang sebesar 2,7 juta. Kenapa? Bukankah seharusnya 3 juta? Sebab yang 300 sudah diambil dari angsuran pertama + admin dari konsumen.
Selama ini suka ada yang protes, itu admin untuk apa? Masuk toko? Secara tersirat ya diambil pihak toko. Tapi sebenarnya masuk leasing. Sebab transferan dari leasing dikurangi angsuran tersebut.
Lalu kemana konsumen bertanggungjawab? Soal angsuran ya ke leasing. Kalau macet dan lain-lain ya leasing yang tanggung jawab. Tar ada kolektor yang ngejar-ngejar. Hehehe. Bagaimana kalau ada trouble dengan barang?
Nah soal barang, balik lagi ke toko. Biasanya toko akan memberitahu, kalau masa barangnya masih garansi, akan dikasih tau untuk klaim garansi ke pusat center dari sebuah merk. Umpamanya Acer, ya ke Acer center. Tanggungjawab siapa? Tanggungjawab konsumen sendiri. Sebab di aturan garansi ada aturan garansi.
Namun, suka ada toko yang sekedar membantu klaim garansi. Itu sifatnya cuma bantuan sukarela. Berapa lama klaim garansi? Karena jaraknya jauh, misalnya di Jakarta atau Bandung, biasanya klaim garansi lumayan lama. Dimulai 2 mingguan sampai 1 bulan. Kadang ada yang 2 atau 3 bulan kalau spare part yang diganti lagi kosong.
Nah begitulah alur kredit. Silahkan jadi bahan pengetahuan. Dan perlu dicatat, keterlambatan di leasing akan dikenai denda. Kalau denda tak dibayar, itu akan susah kalau mau ambil lagi (repeat order/RO). Anda akan punya predikan baru di leasing, badcust! Xixixix...
Dan lagi, data di leasing akan selalu up 2 date. Jangan sekali-kali loncat bulan. Nanti akan dianggap konsumen tak layak dikasih kredit lagi. Datanya online. Bisa dicek di BI Checking. Kalau ngajuin lagi, akan ditolak. Kalau mau pinjam ke bank, cara bayar kita yang jelek akan ketahuan juga. Serem yah? Nah nah nah, makanya jangan coba-coba tidak jujur yah? Hehe
 
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.